mempertaruhkan keperawananku di Piala Dunia

Posted: June 18, 2010 in CERITAKU
Tags: , , ,

aku hanya menggigit bibirku yang merah. Kupingku terasa panas mendengar ocehan nyokapku. Kuliah gratis di pagi hari ketikaku mengungkapkan keinginanku untuk melanjutkan sekolah ke salah satu SMK yang sesuai dengan talentaku.

“Anak perempuan ngga usah sekolah tinggi-tinggi. Kalo udah kawin juga masuk dapur trus anak dan suami. Nga usah sekolah aja kamu. Buang-buang uang. Ibu juga ngga punya uang. Mending kamu cari bapakmu yang hilang entah ke mana. Udah kawin mungkin sama perempuan lain. Minta uang sama dia.”

Air mataku jatuh.

Percuma punya nilai tinggi. Percuma rangking satu kalo aku ngga bisa sekolah. Untuk apa aku belajar kalo aku ngga bisa mengejar impianku? Tadi pagi di sekolah aku di elu-elukan oleh guru dan teman-teman gua karena nilaiku yang tertinggi dan rata-rata sembilan untuk smeua mata pelajaran yang diujikan.

Kenapa Tuhan memberikanku set otak yang pintar tapi ngga memberikanku juga orang tua yang kaya? Jujur, kadang aku iri dengan mereka yang bisa sekolah di sekolah yang mahal meski kadang mereka belajarnya asal-asalan. Tapi, sudahlah…. Protes sana-sini ngga bakalan mengubah nasibku yang tinggal di rumah susun kumuh. Mau minta tolong sama wakil rakyat yang ada di gedung megah sana? Mimpi kali yeee…. Yang ada mereka malah sedang berjuang untuk mendapatkan dana aspresiasi sebanyak lima belas milyar. Huf!!!!!

Tetanggaku yang lagi begadang karena nonton piala dunia membuatku terusik. Apa sih enaknya nonton bola? 20 pria mengejar 1 bola dan 2 pria lagi menunggu bola di gawang. Buang-buang waktu aja. Dari pada aku pusing di kamar, aku bergabung dengan sekolompok pria yang aku kenal yang lagi asyik. Ternyata Jepang lagi melawan Kamerun.

“Neng, blom tidur?” tanya salah seorang pemuda.

aku hanya menatapnya sebentar. Dari nadanya bertanya saja udah ketahuan kalo dia plyaboy cap kampung! aku larut dalam pertandingan yang sedang berlangsung. Ngga tau kenapa, aku yang ngga ngerti bola happy banget begitu Jepang berhasil memenangi pertandingan tersebut.

Tapi ternyata ini bukan hanya sekadar pertandingan! Tapi aku baru nyadar kalo ada beberapa pria yang juga berjudi. Tepatnya mereka taruhan!

*******

“kamu, punya kenalan bandar ngga?” tanyaku ke Samuel.

“Hah? Bandar? Bandar apa? Bandar udara?”

“Bandar judi!”

Samuel menatapku.

“Kenapa kamu liat aku kayak gitu?”

“kamu mau judi?”

“aku mau taruhan.”

“Yang benar kamu! Ngga nyangka , cewek sealim kamu bisa terpengaruh dengan piala dunia. Ha…ha..ha…”

“kamu punya kenalan ngga?” aku mengulang kembali pertanyaanku.

“Tunggu dulu. Emang kamu punya duit buat taruhan?”

aku mendekat ke wajah Samuel. aku membisikkan sesuatu ke telinganya.

Samuel, teman SD ku. Tapi dia memilih berhenti sekolah. Alasannya, ngga punya uang. Tapi sekarang dia punya uang banyak. Dan begitu aku tanya kenapa dia ngga mau sekolah padahal udah punya uang. Dia cuma bilang, ngapain sekolah kalo udah bisa cari duit? Sekolah cuma buang-buang waktu dan duit. Time is money!

**********

Di sinilah aku sekarang. Di sebuah hotel. Jantungku berdetak dengan kencangnya.

“Bos, ini cewek yang aku ceritaain tadi di telpon!” kata Samuel ke salah seorang bapak yang botak.

Dia mengamatiku dari atas sampe bawah. aku kikuk dipandangi kayak gitu. Serasa ditelanjangi. Malu. Tapi inilah keputusanku. Keputusan yangaku buat demi sekolah. Ups, bukan demi sekolah. Tapi demi duit. Ya, demi duit. Duit yang akan gua pakai untuk membiayai sekolahku.

“Samuel sudah cerita semuanya. Tapi apa saya bisa percaya kalau kamu masih perawan?”

Hening.

“Bos, saya jaminannya. saya kenal dia. Dia cewk baik-baik. Dan belum pernah pacaran lagi. Jadi masih asli.”

Terdengar tawa keduanya. Dasar lelaki!

“Saya megang Portugal dan kamu Pantai Gading……”

aku menyimak baik-baik perkataan bapak tersebut yang aku ngga mau cari tau siapa namanya.

Malam ini aku pertaruhkan keperawananku. Kalo aku menang maka aku akan mendapat uang sebesar 10 juta kalo aku kalah maka aku harus merelakan keperawananku dan hanya mendapat imbalan 3 juta. Inilah pilihan terakhir yang bisaku buat untuk tetap bisa melanjutkan sekolahku.

Jantungku berdetak dengan kencang menunggu hasil pertandingan. Bola itu bulat. Apa saja bisa terjadi.

“Tuhan…
Aku mau sekolah.
Tapi… Aku ngga punya uang.

Entah sudah berapa kali aku berdoa kepada-MU tentang hal ini.

Tapi aku tidak pernah bosan berdoa agar aku bisa sekolah.

Tuhan…
Izinkan aku jadi pelacur satu jam saja.
Izinkan aku menjual keperawananku.
Izinkan aku berjudi malam ini.
Biar aku dapat uang dan bisa melanjutkan sekolahku.

Tuhan…
Aku tidak punya pilihan lain.

Tuhan…
Maafkan isi doaku malam ini kalau itu membuatmu sedih.

Aku hanya ingin sekolah….

AMIN…”

aku memanjatkan doa dalam hati. aku hanya bisa pasrah apa pun hasilnya nanti. Sambil menunggu pertandingan aku bernyanyi dalam hati….

Many nights we prayed, with no proof anyone could hear
In our hearts a hopeful song, we barely understood
Now we are not afraid, although we know there’s much to fear
We were moving mountains long, before we knew we could

Chorus:
There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, It’s hard to kill
Who knows what miracles, you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe

In this time of fear, when prayer so often proves in vain
Hope seems like the summer birds, too swiftly flown away
Yet now I’m standing here, my heart so full I can’t explain
Seeking faith and speaking words, I’d never thought I’d say

Chorus:
There can be miracles, When you believe (When you believe)
Though hope is frail, It’s hard to kill
Who knows what miracles, You can achieve (You can achieve)
When you believe, somehow you will
You will when you believe

Bridge:
They don’t always happen when you ask
And it’s easy to give into your fear
But when you’re blinded by your pain
Can’t see you way clear through the rain
A small but still resilient voice
Says help is very near

Chorus:
There can be miracles (miracles)
When you believe (When you believe)
Though hope is frail
It’s hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve (You can achieve)
When you believe
Somehow you will
Somehow you will
You will when you believe
You will when you, you will when you believe
Just believe, just believe
You will when you believe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s