Tumbuh, Tumbuh

Posted: June 14, 2010 in BERITA, EKONOMI
Tags:


Merek Toyota, yang selalu sinonim dengan kualitas terbaik, baru-baru ini menghadapi guncangan hebat. Lebih dari 9 juta unit mobil produksinya ditarik dari seluruh dunia. Ini angka terbesar dalam sejarah otomotif. Dan karena yang mengalami Toyota, tentu ada pelajaran penting dan menarik yang dapat dipetik dari peristiwa ini.

Selama ini, pertumbuhan menjadi indikator untuk mengukur keberhasilan suatu perusahaan. Bahkan juga perekonomian suatu bangsa. Orang selalu berbicara tentang berapa persen pertumbuhannya. Semakin besar angka pertumbuhan, semakin sakti dan hebat perusahaan itu.
Toyota, di bawah kepemimpinan Presiden Okuda, pada 1998 memancangkan target melipatduakan pangsa pasar globalnya menjadi 15%. Mereka yang aktif di industri otomotif mahfum bahwa Toyota ingin melampaui General Motors sebagai global volume leader. Sukses? Tentu saja, Toyota berhasil menjadi yang pertama dalam ukuran volume produksi.

Soalnya kemudian, sanggupkah Toyota secara serentak juga fokus pada kualitas tertinggi yang menjadi “ikon” Toyota? Penarikan mobil tersebut adalah jawabannya.

Sebagai perusahaan besar dengan penjualan besar, Toyota tidak mengerjakan sendiri semua bagian mobil. Contohnya, pedal gas untuk Toyota dibuat oleh perusahaan CTS dari Elkhardt, Indiana, AS. Karpet lantai, yang dalam kasus di atas, merupakan salah satu penyebab tertekannya pedal gas tanpa dikehendaki, dibuat oleh pemasok lainnya.

Karena mengejar pertumbuhan volume produksi, Toyota juga meminta kepada para pemasok untuk menambah kapasitas mereka. Sebagian pemasok disebut-sebut sudah mengingatkan kemungkinan munculnya efek buruk pada sisi kualitas. Ekspansi yang cepat sangat mungkin menimbulkan penurunan kualitas.

Memantau rantai pasokan, dan yang terpenting kualitasnya, merupakan faktor kritis bagi perusahaan yang mengandalkan pihak ketiga. Bagi industri yang tumbuh semakin global, faktor kritis ini perlu perhatian lebih serius. Apa lagi jika yang dikejar adalah pertumbuhan yang cepat. Kontrol atas kualitas pasokan suku cadang menjadi tidak mudah dilakukan. Adanya komponen elektrik juga membuat kompleksitas makin tinggi.

Pertumbuhan yang agresif dapat menciptakan risiko yang tak dapat dikelola. Keinginan Toyota untuk menggantikan General Motors sebagai pembuat mobil nomor 1 di dunia mendorong perusahaan ini bergerak hingga ke batas luar kontrol kualitasnya. “Bukti bahwa Toyota berkembang terlampu banyak dan terlalu cepat mulai muncul dua tahun yang silam,” tulis Paul Ingrassia, peraih Hadiah Pulitzer, untuk The Wall Street Journal. “Bukan pada bottom line perusahaan, tapi pada peringkat kualitas-mobilnya.”

Akio Toyoda, cucu pendiri Toyota, yang kini menjadi orang nomor satu di perusahaan ini, memang mencemaskan bahwa pertumbuhan Toyota mungkin terlalu cepat. Prioritas Toyota-keselamatan, kualitas, dan baru volume produksi-telah dikacaukan oleh target pertumbuhan. Pacuan mengejar target pertumbuhan membuat para manajer Toyota tidak mampu berhenti, berpikir, dan melakukan perbaikan sebagaimana sebelumnya selalu mereka kerjakan.

Akio juga mengingatkan prinsip penting Toyota bahwa kunci dalam membuat produk berkualitas adalah mengembangkan orang yang berkualitas. Masing-masing karyawan berpikir tentang apa yang harus ia lakukan, terus-menerus melakukan perbaikan, dan dengan berbuat seperti itu, menciptakan mobil yang lebih bagus. Namun, target pertumbuhan yang tinggi membuat mereka sulit mengambil jeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s