Sandyakalaning Koran

Posted: June 13, 2010 in BERITA
Tags: ,

Sejarah tak pernah mau menunggu. Saat waktunya tiba, ia akan menorehkan penanya segera. Lihatlah masa gelap Eropa sebelum Johannes Gutenberg membikin mesin cetak pertama pada 1454. Di Eropa saat itu hanya ada 30 ribu buku. Setelah 46 tahun lelaki dari Mainz, Jerman, ini melahirkan mesin cetak, Eropa memiliki koleksi buku sebanyak sembilan buku.

Sejarah tak mau menunggu. Angin perubahan datang bersama waktu. Sejarah adalah “makhluk” yang tertib, disiplin.

Perilaku sejarah yang super-duper disiplin itu bergulir hingga kini. Saat Bill Gates menyodorkan cara baru berkomputer, Internet menyita separuh kesibukan orang-orang masa kini, dan Mark Zuckerberg mengubah gaya hidup 180 derajat dengan Facebook, sejarah juga datang dengan begitu disiplin.

Salah satu yang ditorehkan dari sejarah kemajuan teknologi digital ini adalah matinya jurnalisme analog. Koran dan majalah bertumbangan. Koran sebesar New York Times pun kini bisnisnya meleleh tergerus online. Time sampai menulis dua berita bernada muram yang berjudul “Bagaimana Konglomerat Carlos Slim Menyelamatkan New York Times” dan “Bagaimana Menyelamatkan Koran Anda”.

Koran-koran gurem lainnya di Amerika juga sudah mulai gelisah. The Christian Science Monitor–ini koran favorit saya saat membuat harian pertama di Indonesia yang seukuran tabloid pada akhir 1999–telah mengurangi jumlah cetaknya. Tribune Co setali tiga uang. Mereka dengan murung mendeklarasikan kebangkrutan perusahaan media tersebut. Koran yang terbit dua hari sekali di Detroit juga terpaksa mengubah jadwal terbitnya menjadi tiga kali sepekan.

Di Indonesia, tak usahlah diceritakan. Keadaannya sama saja. Koran-koran kecil mulai menubruk iklan tanpa etika: ada yang pasang nomor wanita penghibur dan dunia esek-esek, ada yang menjual kapling korannya kepada para calon kepala daerah atau calon legislator.

Keadaan itu amat terbalik dengan beberapa “jurnalis” daring (online), seperti Google atau Facebook. Saat krisis mencekik Amerika, laba Google pada kuartal ketiga 2008 saja justru naik 26 persen, mencapai US$ 1,35 miliar. (Rp 16,2 triliun). “Edun!” begitu kata orang Sunda. Angka itu lebih besar dari bujet yang diajukan PSSI untuk menggelar Piala Dunia di negeri ini, yang cuma US$ 10 triliun.

Padahal Google hidup dari iklan baris. Ia menyedot semua iklan baris dari seantero jagat. Tanpa disadari, Google juga mengambil iklan yang mestinya masuk ke media cetak, seperti New York Times, The Christian Science Monitor, Kompas, Koran Tempo.

Facebook juga mengambil alih kehidupan orang-orang masa kini. Berapa lama Anda membaca koran dalam sehari–biarpun hari itu berita sedang panas: ada Hillary datang atau Susilo Bambang Yudhoyono sedang pusing memikirkan Jusuf Kalla? Survei membuktikan cuma 10 sampai 20 menit.

Facebook menyedot minimal 30 menit per hari dari penggunanya yang mencapai 175 juta orang. Mana yang lebih “hot”, headline koran yang berbunyi “Yudhoyono Belum Pilih Wapres” atau status di Facebook “lagi pingin dipijit dan maem kue putu” atau “lagi makan kue bugis yang dibeli di toko kue mentereng”? Facebook telah melibas koran.

Facebook, mungkin banyak orang bosan mendengarkan ini, benar-benar menjadi fenomena. Tahun lalu, setiap hari “Cuma” 4 juta orang yang memperbarui status mereka. Kini, setiap hari ada 15 juta orang. Sebanyak 15 juta status baru berarti 15 juta headline! Facebook setiap bulan juga ada 850 juta foto yang ditayangkan. Koran atau majalah mana yang bisa menandingi itu?

Sandyakalaning media analog–seperti koran, majalah, atau tabloid–mungkin sebentar lagi tiba. Chief Executive Officer Google Inc Eric Schmidt sebenarnya juga prihatin melihat keadaan ini. Google berjanji akan membantu media cetak meraup duit iklan dari dunia daring.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s