Naik Bajaj di Angkasa

Posted: June 13, 2010 in BERITA, SERBA-SERBI
Tags: ,

Sepekan yang lalu saya berkunjung ke Meulaboh, Aceh Selatan, melihat perkembangan Aceh setelah beberapa tahun tsunami. Kali ini saya menumpang pesawat ringan milik armada Susi Air, dengan rute Medan – Nagan Raya, Meulaboh.

Siang itu hari cukup cerah. Panas terik malah. Saya rada grogi waktu menyaksikan pesawat jenis Grand Cessna Pk-VVF prakir di bandara Polonia. Ramping tubuhnya. Sayapnya tampak lebih panjang dibanding sayap pesawat ringan jenis yang lain.

Apa iya si kecil ramping ini sanggup membawa kami, 12 penumpang, menuju Meulaboh? Begna, staf Unicef di Meulaboh, juga penumpang, menenangkan saya. “Rileks, pesawat Susi Air dikenal lebih aman dibanding Merpati. Peralatan navigasinya canggih,” kata Begna. “Kau lihat sayap yang lebih panjang, itu menandakan secara aeronotika dia lebih aman.” Hm, oke deh…

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya menumpang pesawat ringan. Pada Maret 2005, ketika Nias dilanda gempa, saya juga menempuh Medan – Nias dengan menumpang pesawat ringan milik armada SMAC. Bersama Budiono, wartawan Metro TV, kami bercanda menutupi kegelisahan waktu itu. “Tahu nggak kepanjangan SMA? Siap Mati atau Cacat,” katanya.

Budi yang bandel bahkan dengan santai menyalakan rokok. “Pilotnya juga merokok, santai saja.” Ampun, dia tak tahu hati saya kebat-kebit tak keruan. Mulut saya komat-kamit mengucapkan doa mohon keselamatan.

Tapi, itu kan perjalanan di masa darurat. Ketika itu gempa menggebrak, jalanan terputus, laut bergolak hingga kapal tak berani melaut.

Nah, pekan lalu, situasi serba normal. Medan – Meulaboh sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan darat, butuh 10 jam perjalanan. Saya mulai ragu, apa mesti saya menggunakan jalan darat saja?

Ah, sudahlah, tiket sudah di tangan. Lagipula 10 jam di bus bukanlah pengalaman yang menerbitkan selera. Akhirnya, dengan meneguhkan tekad, saya naik Susi Air. Bismillah.

Saya duduk persis di belakang pilot. Kaget juga, pilot dan kopilotnya bule. “Halo, selamat datang,” kata Mbak Pilot dengan ramah. Sayang, saya tak sempat ngobrol dengan dia gara-gara saya yang kelewat stres.

Pelan-pelan, Si Susi tinggal landas. Tombol demi tombol ditekan. Kemudi diputar oleh si pilot, lalu meter demi meter pesawat menapak udara. Nggguuuungg, mesin angkat suara.

Berada di belakang pilot, saya jadi tahu persis pergerakan alat navigasi. Altitude menunjuk berapa kaki di atas tanah, berapa kecepatan vertikal, berapa kecepatan angin. Haduh…, seperti sedang bermain game playstation.

Si Susi menjelajah angkasa, tentu tidak secepat pesawat jet. Pelahan, merambat, serasa naik bajaj di angkasa. Helai-helai daun kelapa tampak nyata dari jendela. Baru kali ini saya menyaksikan helaian daun kelapa dari atas dengan begitu dekat, serasa tangan saya bisa menyentuhnya.

Padat rumah penduduk di Kota Medan pun terasa tinggal sepenggalah. “Hai, itu kan hotel tempat aku menginap,” kata seorang penumpang.

Nggguuuungg, suara mesin menciutkan nyali. Apalagi, di tengah perjalanan, pilot dan kopilot membaca buku manual. Belakangan saya tahu bahwa kopilot itu statusnya sedang belajar, on training. Instrukturnya adalah si pilot.

Syukurlah, perjalanan satu jam itu berlalu dengan lancar. Si Susi menapak landasan Bandara Cut Nyak Dien, Nagan Raya, dengan selamat sentosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s